Sekilas Padepokan

Padepokan Bumi Nusantara berdiri di kawasan Sangiran, wilayah yang dikenal sebagai salah satu pusat sejarah manusia purba di dunia.

Tempat ini menjadi simbol bahwa perjalanan manusia dimulai dari kesadaran terhadap alam dan kehidupan.

Sangiran menyediakan bukti fisik bagi salah satu inti filosofi Jawa, yaitu Sangkan Paraning Dumadi, yang berarti “dari mana manusia berasal dan ke mana ia akan kembali.” (Asal – Perjalanan – Tujuan Akhir Kehidupan).

Filosofi ini kemudian berkembang menjadi konsep besar  Sandhyakalaning Dumadi yaitu masa peralihan peradaban manusia menuju zaman baru.

Tanah Sangiran mengingatkan kita bahwa: perjalanan manusia telah berlangsung sangat lama, dan masa depan manusia bergantung pada kebijaksanaannya menjaga bumi.

 

 

 

 

PESAN DARI TANAH NUSANTARA

  • Dari tanah Sangiran kami menyampaikan pesan sederhana kepada dunia:
  • manusia harus kembali memahami hubungan antara alam, ilmu, dan kebijaksanaan.
  • Kemajuan tidak boleh memisahkan manusia dari bumi yang menjadi sumber kehidupannya.
  • Peradaban yang kuat bukanlah peradaban yang paling kaya atau paling kuat secara militer.
  • Peradaban yang kuat adalah peradaban yang mampu menjaga keseimbangan kehidupan.

 

MEMAYU HAYUNING BAWONO

Leluhur Nusantara meninggalkan sebuah ajaran yang sederhana tetapi sangat dalam: Memayu Hayuning Bawono, memperindah dunia dan menjaga keseimbangan kehidupan. Ajaran ini bukan hanya untuk masyarakat Nusantara, tetapi untuk seluruh umat manusia.

SANDHYAKALANING DUMADI

Setiap peradaban memiliki masa awal, masa kejayaan, dan masa senjanya. Hari ini dunia mungkin sedang berada di masa senja dari suatu zaman. Namun setiap senja selalu membawa kemungkinan lahirnya fajar baru. Dalam falsafah Nusantara, masa peralihan itu disebut:  Sandhyakalaning Dumadi.

PENUTUP

Dari tanah Sangiran kami mengingatkan dunia: 

  • Manusia harus kembali memahami dirinya sebagai bagian dari kehidupan bumi.
  • Jika manusia mampu menemukan kembali kebijaksanaan itu, maka peradaban baru yang lebih bijaksana dapat lahir.
  • Namun jika manusia terus berjalan tanpa kesadaran, peradaban akan mengulangi kesalahan yang sama seperti masa lalu.

 

Pilihan itu selalu berada di tangan manusia.